Dinamika politik di era digital telah bertransformasi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, internet memberikan ruang seluas-luasnya bagi partisipasi publik, namun di sisi lain, ia menjadi ladang subur bagi penyebaran ujaran kebencian, hoaks, dan polarisasi yang tajam. Membangun budaya politik yang santun bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menjaga integrasi sosial dan kualitas demokrasi kita.
Memahami Akar Masalah di Ruang Digital
Munculnya sikap tidak santun dalam politik daring sering kali dipicu oleh anonimitas dan jarak fisik. Ketika seseorang berinteraksi di balik layar, mereka cenderung kehilangan rasa empati yang biasanya muncul dalam pertemuan tatap muka. Fenomena “ruang gema” atau echo chamber juga memperparah keadaan, di mana algoritma media sosial terus menyajikan konten yang hanya mendukung satu sudut pandang, sehingga membuat pengguna merasa paling benar dan memandang pihak lain sebagai musuh yang harus dijatuhkan.
Pendidikan Literasi Politik dan Digital
Langkah awal yang paling fundamental adalah penguatan literasi. Budaya santun tidak akan tumbuh tanpa pemahaman yang baik tentang cara kerja informasi. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk membedakan antara kritik kebijakan yang konstruktif dengan serangan personal yang bersifat menghina. Literasi digital mengajarkan kita untuk selalu melakukan verifikasi sebelum berbagi informasi, sehingga penyebaran kebencian yang didasari oleh data palsu dapat ditekan sejak dini.
Peran Elit Politik sebagai Teladan
Budaya politik sangat dipengaruhi oleh perilaku para pemimpinnya. Jika para aktor politik menggunakan retorika yang memecah belah dan penuh makian untuk meraih simpati, maka basis pendukungnya kemungkinan besar akan meniru pola komunikasi tersebut. Membangun kesantunan harus dimulai dari atas. Para elit politik perlu menunjukkan bahwa perbedaan pendapat bisa disampaikan dengan argumen yang elegan tanpa harus merendahkan martabat orang lain. Debat yang sehat adalah tentang adu gagasan, bukan adu cacian.
Mengutamakan Etika Komunikasi dalam Berpendapat
Kesantunan politik bukan berarti membungkam kritik. Justru, kesantunan adalah bumbu yang membuat kritik menjadi lebih berbobot dan mudah diterima. Dalam berinteraksi di internet, sangat penting untuk menerapkan prinsip “pikirkan sebelum mengetik”. Menggunakan bahasa yang inklusif, menghindari generalisasi negatif terhadap kelompok tertentu, dan tetap berkepala dingin saat menghadapi provokasi adalah kunci utama. Kita harus menyadari bahwa di balik akun yang kita ajak berdebat, ada manusia yang memiliki hak untuk dihormati.
Pentingnya Moderasi dan Pengawasan Komunitas
Selain kesadaran individu, peran platform dan komunitas juga sangat krusial. Penegakan aturan yang tegas terhadap konten yang mengandung unsur SARA dan kebencian harus dilakukan secara konsisten. Namun, pengawasan terbaik tetap datang dari sesama pengguna. Jika kita melihat ujaran kebencian, tindakan terbaik bukan membalasnya dengan kebencian serupa, melainkan dengan melaporkannya atau membanjiri ruang digital dengan narasi positif yang menyejukkan.
Menjaga Kedewasaan Berdemokrasi
Pada akhirnya, membangun budaya politik santun adalah tentang kedewasaan dalam berdemokrasi. Kita harus belajar menerima bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan bernegara. Internet seharusnya menjadi jembatan untuk memperpendek jarak pemikiran, bukan jurang yang memisahkan. Dengan konsistensi dalam menjaga lisan dan ketikan, kita dapat menciptakan ekosistem digital yang sehat, di mana politik dijalankan dengan martabat dan rasa hormat yang tinggi demi kemajuan bersama.











